Senin, 14 Januari 2008

7 Penyebab Kesalahan Dalam Memilih Pasangan Hidup (2)


Dengan banyaknya perkembangan pengetahuan tentang bagaimana mempersiapkan pernikahan, penelitian juga membuktikan bahwa saat ini kemungkinan suatu pernikahan akan sukses atau gagal dapat diperkirakan sebelum hari pernikahan dengan kemungkinan sebesar 81%. Dari penelitian ini dan dari pengalaman saya sebagai konselor bimbingan pra-nikah, saya menyimpulkan 7 hal yang memungkinkan terjadinya kesalahan dalam memilih orang untuk dijadikan pasangan seumur hidup anda. Poin ke 1 sampai poin ke 4 telah saya uraikan dalam artikel sebelumnya. Berikut ini poin-poin selanjutnya:

Area perkenalan yang terlalu sempit

Kadang-kadang 2 orang datang pada saya dan menyatakan niat mereka untuk menikah, tapi cara mereka untuk saling mengenal satu sama lain terlalu sempit. Mereka belum berjalan bersama dalam melalui berbagai keadaan dan situasi, yang penting untuk benar-benar mengenal seseorang. Mereka belum benar-benar mengetahui apa yang disukai atau tidak disukai satu sama lain dalam kebanyakan area dalam hidup, mereka belum menghabiskan banyak waktu bersama dengan keluarga masing-masing, dan mereka belum melalui satu pun argumentasi atau konflik.

Saya yakin anda mengerti maksud saya. Orang-orang yang sedang jatuh cinta biasanya tidak ingin diganggu dengan pembicaraan tentang masalah atau konflik. Mereka merasa "yakin" bahwa mereka sudah mendapatkan bukti yang cukup untuk memilih satu sama lain dengan benar. Tapi sesungguhnya, sempitnya pengalaman mereka dengan satu sama lain membuat keputusan mereka beresiko tinggi. Adalah penting untuk meningkatkan pengalaman anda bersama sebanyak mungkin, luangkan waktu bersama dengan calon pasangan anda dalam waktu-waktu dan berbagai kesempatan yang berbeda, saat stress atau santai, saat sedih atau senang. Lihatlah bagaimana dia bermain dengan anak-anak, melakukan tugas-tugas rumah, mengatur keuangan, dan hal lainnya. Semakin banyak pengalaman yang anda lalui bersama, semakin besar kesempatan anda untuk menghindari kejutan-kejutan yang tersembunyi.

Pasangan mempunyai harapan yang tidak realistis

Seorang wanita datang kepada saya dan menceritakan tentang kegagalan pernikahannya, "Saya tidak mengira bahwa hubungan yang dimulai dengan penuh harapan dan cinta dapat berakhir salah. Dulu saya yakin bahwa kalau dia sudah melihat cinta itu sebenarnya bagaimana, maka segalanya akan menjadi baik-baik saja. Lalu dia akan berubah dan mencintai saya sama seperti saya mencintai dia. Dia sudah mempunyai semuanya dalam dirinya, dia hanya butuh dicintai untuk bisa mengeluarkan semua itu. Saya akan menjadi orang yang membuka dia, seorang wanita yang akan membuat hidupnya lebih baik..." Mungkin anda bisa melihat, sama seperti saya, adalah sikap yang naif jika kita berpikir bahwa kita bisa mengubah seseorang sendirian. Wanita ini menyadari bahwa harapan-harapannya memang tidak realistis. Wanita lain yang hanya bertahan 2 tahun dalam pernikahannya mengatakan, "Saya tidak pernah mengira akan ada masalah keuangan. Dia kelihatannya mempunyai banyak uang ketika kami pacaran. Saya hanya berasumsi bahwa tidak akan pernah ada masalah keuangan."

Saya ingat satu kalimat dari buku terkenal The Road Less Travelled, "hidup itu sulit". Dia benar tentang itu. Jika kita hanya berfokus pada sisi menyenangkan dari sebuah hubungan, kita mungkin akan terjebak dan berpikir bahwa cinta adalah jalan ke surga yang membawa kita keluar dari semua ketakutan dan keterbatasan kita, "cinta itu begitu mengagumkan... mari kita menikah... semuanya akan menjadi sangat indah..." Meskipun semua perasaan ini memang indah, namun celah terbesarnya adalah ketika kita membayangkan bahwa cinta itu sendiri bisa menyelesaikan masalah-masalah kita, menyediakan kenyamanan dan kesenangan yang tiada akhir, menyelamatkan kita dari menghadapi diri kita sendiri, ketakutan-ketakutan kita, kesendirian kita, sakit hati kita, atau bahkan kematian kita. Terlalu terikat pada hanya sisi yang menyenangkan saja dari cinta membuat kita harus menghadapi banyak shock dan kekecewaan ketika kita kembali ke "bumi" dan harus menghadapi tantangan-tantangan hidup yang nyata untuk mengusahakan sebuah hubungan agar berjalan dengan semestinya.

Ketika sebuah pasangan memutuskan untuk menikah, mereka sebaiknya sudah waspada bahwa mereka akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang nyata, bahkan jika hal-hal berkembang dengan cara yang paling positif sekalipun. Kadang usaha-usaha untuk membuat suatu hubungan berhasil dapat membuat kebanyakan orang merasa stress. Jika sebuah pasangan tahu bahwa kadang ketegangan dan rasa sakit itu tidak terhindarkan, mereka akan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk belajar menghadapi dan menangani semua itu dengan efektif. Kuncinya adalah mengetahui apa yang akan anda hadapi, sehingga anda tidak akan terkejut dan memalingkan diri dari satu sama lain. Harapan-harapan kita kebanyakan dibentuk dari apa yang kita alami pada masa kecil. Jika orang tua anda membiarkan anda melihat dan atau terlibat dalam semua sisi kehidupan mereka -ketidaksetujuan, pergumulan, kegembiraan, mempertimbangkan keputusan penting- anda mungkin mempunyai gambaran yang lebih realistis dari kehidupan pernikahan. Namun kadang-kadang orang tua, dengan niat yang baik (menurut mereka), berurusan dengan hal-hal yang sulit itu di belakang pintu, atau mungkin ditangani hanya antara mereka berdua, anak-anak mereka lalu mengembangkan pemikiran bahwa pernikahan itu relatif mudah.

Kenyataannya adalah, pernikahan yang sukses itu membutuhkan kerja keras dan usaha. Anda akan mengalami banyak sisi dari rasa sakit, dan akan ada masalah-masalah yang harus dihadapi. Dan sebaik apapun kondisi pernikahan anda, akan selalu ada tantangan-tantangan pribadi untuk menguji diri anda. Saya telah melihat banyak pernikahan berakhir karena banyak pasangan yang mengharapkan kehidupan mereka akan diisi dengan romantisme, jalan-jalan di pantai, dan bersenang-senang. Semua itu bukan realita.

Salah satu atau keduanya mungkin mempunyai masalah kepribadian atau masalah perilaku yang signifikan

Jika ada beberapa hal dari kepribadian atau perilaku calon pasangan yang masih anda pertanyakan -seperti cemburu, emosional, temperamental, tidak bertanggungjawab, tidak jujur, kecanduan, masalah integritas seksual, atau keras kepala- bertanyalah pada diri anda apakah anda mau menghabiskan sisa hidup anda dengan masalah-masalah itu. Hal-hal seperti ini jarang menghilang ketika anda menikah. Inilah sebabnya saya sangat prihatin ketika sebuah pasangan tetap memutuskan untuk menikah meskipun masih ada kecacatan signifikan yang belum dibereskan.

Sebagian besar masalah di atas saya sebut sebagai ciri kepribadian, yang berarti sikap atau reaksi yang terjadi berulang kali dalam berbagai situasi yang berbeda, bukan hanya sekali atau 2 kali selama periode waktu yang lama. Jika calon pasangan anda dalam keadaan "bad mood" 2 atau 3 bulan lalu, itu bukan masalah besar. Tapi jika "mood"-nya sering berfluktuasi di minggu yang sama, dan jika sudah terlalu banyak minggu-minggu seperti itu, anda sedang menghadapi salah satu ciri kepribadian. Ciri-ciri kepribadian itu mungkin dimulai dari sebuah strategi untuk menghadapi sebagian peristiwa dalam hidup. Berbohong contohnya, calon pasangan anda menemukan dirinya berada dalam situasi yang sulit pada masa lalunya. Jia dia mengatakan yang sebenarnya, dia akan terlihat buruk atau kehilangan sesuatu yang berharga, jadi dia berbohong, dan pada saat dia berbohong, kegelisahannya akan rasa sakit yang dia takutkan berkurang. Ini membuat dia mengulang untuk berbohong di kesempatan lain saat dia menghadapi dilema pada situasi yang serupa. Saat perilaku-perilaku semacam ini dilakukan berulang kali, mereka menjadi kebiasaan.

Jika seseorang yang anda sayangi sering atau terus menerus tidak dapat diandalkan, atau tidak jujur, atau bersikap menyakiti anda, akan sangat sulit bagi anda untuk membangun rasa percaya kepadanya, atau nyaman bersama pasangan anda. Dan jika anda tidak dapat mempercayai atau nyaman bersama pasangan anda, waspdalah. Dalam keadaan apapun, jangan menikah sebelum masalah-masalah kepribadian yang signifikan telah diketahui dan dibereskan. Karena jika tidak, ada potensi yang berbahaya dalam pernikahan anda nantinya.

Jika anda bertanya apakah ketujuh hal di atas adalah mutlak, saya bisa mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa beberapa orang yang menikah setelah berhubungan hanya beberapa bulan dan pernikahan mereka sukses. Saya tidak akan menyangkalnya karena saya tahu itu benar-benar terjadi. Tapi itu adalah perkecualian yang jelas. Kemungkinan yang lain pun dapat terjadi pada ke 6 hal lainnya. Namun jika anda mengikuti prinsip-prinsip di atas, paling tidak anda akan terhindar dari penyebab-penyebab utama salah memilih pasangan hidup. Lalu anda akan bebas untuk berpikir lebih positif tentang bagaimana anda akan membuat pernikahan anda berhasil melalui perencanaan dan persiapan yang matang.

Kepuasan karena memilih pasangan hidup dengan bijaksana adalah tidak ternilai, dan usaha keras anda akan terbayar. Saya tidak dapat menghitung berapa banyak kehidupan yang akan dipengaruhi oleh sebuah pernikahan. Contohnya ayah dan ibu saya, sampai saat ini, kami semua (ada 45 orang, kami anak-anak mereka dan juga cucu-cucu mereka) bisa melihat bahwa pernikahan mereka telah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan kami dengan berbagai cara. Saya sangat ingin orang-orang dapat meningkatkan kesempatan mereka untuk menjadi bahagia dan menyediakan lingkungan yang sehat bagi orang-orang yang mereka sayangi jika mereka mengetahui pentingnya untuk memperhatikan ke tujuh hal ini.

Tidak ada komentar: